Tubuh Bersisik Menjelang Ajal
Tubuh perempuan yang berbaring diatas bangsal itu kondisinya betul-betul mengerikan. Nyaris semua kulitnya tak berbentuk seperti kulit manusia lagi melainkan telah berubah total. Kulit yang membaluti sekujur tubuhnya bukan lagi berwarna sawo matang, tapi telah berubah menjadi sisik-sisik ikan berwarna putih keperak-perakan.
Hanya bagian telapak tangan dan telapak kaki bagian dalam yang kulitnya tetap utuh sediakala. Lebih mengiriskan lagi, sisik-sisik yang terkelupas dari tangannya tampak berceceran di lantai. Sebagian lagi jatuh diatas selimut yang menutup bagian tubuhnya. Setiap kali tangan kanannya menggaruk tangan kirinya karena saking gatalnya, sisik-sisik itu lepas begitu saja dan menebarkan bau anyir ke sekitar ruangan. Parahnya, garukan itu mengakibatkan koreng-koreng kecil hingga terang saja kondisinya semakin memprihatinkan.
Bi Ijah (40 thn, bukan nama sebenarnya) tak mengira kalau Ibu Kasmi (majikannya) bakal menderita penyakit aneh dan tidak wajar itu. Sejak awal ia hanya menduga bahwa penyakit majikannya ini demam biasa karena keluhannya hanya panas dingin. Tapi perkiraannya meleset ketika mendapati kulit muka majikannya perlahan mulai berubah. Apalagi pori-porinya telah muncul guratan-guratan aneh. Dan puncaknya, kulit di mukanya membentuk seperti sisik-sisik ikan. Awalnya lamat-lamat akhirnya makin jelas. Perubahan ternyata terus berlanjut, bahkan menjalar ke seluruh anggota badan lain. Melihat keganjilan ini, Bi Ijah memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.
Apa yang terjadi setelah itu? Nyatanya, setali tiga uang bahkan kondisinya semakin parah. Setelah sepuluh hari dirawat di rumah sakit, kondisinya tak menunjukkan kemajuan yang berarti. Sebaliknya, sekujur tubuh pasian kian lemas dan lunglai. Dan sisik-sisik seperti sisik ikan yang muncul di sekujur tubuhnya tidak segera sirna.
Pembantu itu hanya terpaku menyaksikan pemandangan yang demikian mengenaskan. Namun ia setia menunggui dan menuruti kemauan majikannya. Setiap kali ia menanyakan penyakit yang di derita majikannya kepada dokter yang menangani, dokter hanya menjawab belu, bisa mengidentifikasi. Derita itu menyisakan teka-teki. Ia benar-benar buntu mencari jalan keluar. Maklumlah tak adapun satu kerabat dari majikannya yang mau membesuknya. Mereka malu mempunyai keluarga yang berperilaku seperti Ibu Kasmi.
Ingin rasanya, Bi Ijah keluar dari tempat itu, namun siapa yang akan mengurus majikannya kalau ia tinggalkan. Kendati sang majikan mempunyai perangai buruk, pemarah, dan acapkali membatasi ruang geraknya, tapi ia tetap tak tega membiarkan saat-saat kritis majikannya menderita.
Dalam hati ia bertanya-tanya, aneh betul penyakit majikannya ini. Kenapa bisa demikian? Apakah derita ini merupakan azab Allah di dunia yang ditimpakan pada majikannya karena perbuatan buruknya selama ini? Ataukah penyakit yang bersemayam dalam tubuh majikannya memang penyakit yang sulit di identifikasi dokter?
Kondisi sang majikan kian lemah. Nafasnya tersenggal-senggal. Wajahnya pucat pasi. Segala cara yang di tempuh dokter untuk kesembuhannya gagal membuahkan hasil. Rasanya kematian tinggal menunggu waktu saja. Tatkala sakaratul maut segera tiba, Bi Ijah terus berupaya agar majikannya insyaf dan senantiasa menyebut nama Tuhan. Tapi jangankan bisa berkata, isyarat saja sudah tak mampu.
Setelah sekian lama bergelut melawan rasa sakit dari dalam tuuh, ditambah dengan sisik-sisik ikan yang masih melekat, tibalah ajal menjemput. sekitar jam sebelas malam, ketika banyak orang sudah membaringkan tubuhnya atau telah kalap dalam tidurnya, perempuan berumur 50 tahun ini menghembuskan nafas terakhir. Tanpa meninggalkan pesan apa-apa.
Berita meninggalnya Ibu Kasmi ini sampai ke telinga Pak Nurhadi (50 thn, bukan nama sebenarnya). Maka, malam itu juga Pak Nurhadi berniat menuju rumah sakit. Malam semakin laru, gemuruh kota kian redup, pertanda orang-orang menghentikan aktifitasnya, tak membuat lelaki ini mengurungkan niatnya.
"Saya mendengar kabar Ibu Kasmi meninggal jam 11 malam dari telepon pembantunya. Langsung saya meluncur ke rumah sakit, dimana ia dirawat. Begitu saya melihatnya, kata pertama kali yang keluar dari mulut saya adalah astaghfirullah..astaghfirullah.. "Sungguh di hadapan saya terbujur tubuh perempuan yang sangat memprihatinkan. Pokoknya, seumur hidup baru kali ini saya melihat pemandangan yang demikian. Terlihat dengan jelas kulit dan pori-pori Ibu Kasmi telah berubah seperti sisik ikan. Sampai sekarangpun, saya masih terbayang oleh kejadian yang betul-betul mengagetkan itu, "papar Pak Nurhadi kepada Hidayah Update.
Suasana hening sejenak. Lelaki itu sesekali menerawang ke langit-langit ruangan, sesekali menatap keluar ruangan. Sementar itu, Bi Ijah tak banyak kata.
"Kenapa bisa seperti ini, Bi? Terakhir, saya melihatnya masih sehat bugar," tanya Pak Nurhadi, membuka rasa penasarannya. Eee.. entahlah, Pak. Saya sendiri tidak tahu persis penyebab penyakit aneh itu," jawab Bi Ijah gagap. "Mulai kapan sakitnya?" "Hampir dua mingguan." "Bagaimana ceritanya?"
"Semula ibu hanya merasakan panas dingin biasa sehabis pulang dari kantor. Lalu panas dingin itu terus berlanjut sampai beberapa hari. Saya juga heran, tiba-tiba saja kulit di wajahnya berubah sedikit demi sedikit membentuk seperti sisik-sisik ikan. Kemudian menjalar ke tangan, perut, kaki hingga merata ke semua anggota badan. Anehnya, dokter pun tidak bilang apa-apa soal ini."
Adzan subuh berkumandang. Dari lorong-lorong jalan, sebagian orang tengah beranjak ke masjid untuk shalat berjamaah. Sementara itu sayup-sayup hingar bingar kota mulai merayap. Kendaraan bermotor satu per satu mulai berseliweran.
Dalam waktu yang bersamaan jenazah Ibu Kasmi dibawa pulang ke rumah oleh kerabatnya untuk segera dikebumikan. Namun malang bagi Bi Ijah. Sepeninggal majikannya justru dirinya terusir dari rumah itu. Kerabat-kerabat majikannya tak sudi menerima dirinya karena ia di tuduh mencuri tas milik majikannya. Padahal sebenernya itu hanyalah dalih yang digunakan untuk mendepaknya dari rumah itu. Tas itu merupakan pemberian orang lain pada dirinya.
Menyalahgunakan Kepercayaan
Sewaktu hidupnya, Ibu Kasmi hidup sendiri. Ia menempati rumah hanya bersma seorang pembantu. Dalam usianya yang merangkak tua, enggan baginya untuk berkeluarga. Sebenarya ia tergolong orang yang berkecukupan. Hasil kerja disebuah yayasan sosial, rasanya lebih dari cukup untuk memenuhi kehidupannya. Apalagi ia juga tidak mempunyai banyak beban yang harus di tanggung kecuali dirinya sendiri dan seorang pembantu saja. Jadi, lebih enteng baginya untuk memenuhi kebutuhannya dibandingkan dengan keluarga lain disekitarnya yang mempunyai banyak anak dan istri.
Namun bagi Ibu Kasmi, itu belum cukup. Rasanya masih terlalu minim gaji yang ia dapatkan dari tempat ia bekerja. Karena belasan tahun ia mengabdikan diri di instansi itu, nyatanya belum bisa membangun rumah yang megah dengan perabotan yang lengkap sebagimana ia impikan. Padahal ia sudah mengatur demikian ketat pengeluaran hariannya. Sekecil apapun uang yang keluar pasti dicatatnya. Jika sedikit saja mendapati keteledoran pembantunya, maka kemarahan dan segala caci-maki akan diterima. Akibatnya, Bi Ijah pun seperti robot yang bisa disuruh kesana-sini tapi kurang diperhatikan nasibnya. Tidak boleh macam-macam dan harus selalu sabar melayani majikannya.
Di yayasan itu, Ibu Kasmi bekerja di bagian keuangan. Lazimnya yayasan sosial lain, yayasan ini juga mempunyai visi yang sama, yakni peduli terhadap kalangan lemah terutama keluarga fakir, yatim, serta yatim piatu. Yayasan ini menjembatani jurang pemisah antara orang kaya dan miskin, mengetuk hati para dermawan agar mau menyisihkan sebagian hartanya untuk kepentingan kaum dhuafa, mengalir di yayasan ini.
Hasil sumbangan yang menumpuk dari para dermawan itu menarik hati Ibu Kasmi. Perempuan yang menangani langsung masalah keuangan dan sumbangan ini, rupanya gelap mata buta hati. Ditimang-timangnya uang yang berada di lacinya, demikian pula barang-barang sembako yang terpampang di hadapannya. Semuanya menggiurkan.
Rasanya terlalu sia-sia kalau dibiarkan begitu saja. Dengan entengnya, tugas yang seharusnya dijaga, malah disalah gunakan. Ia selewengkan amanat yang telah dipercayakan kepadanya untuk ambisi pribadi. Padahal jelas itu bukan miliknya, melainkan milik yayasan yang nantinya akan disumbangkan kepada para dhuafa. Ia pergunakan uang dan barang kebutuhan para dhuafa itu seenaknya sendiri.
Oleh karena itu, bukan mustahil kalau perbuatannya akhirnya di ketahui oleh orang. Sepintar-pintar orang menyembunyikan bangkai, pada saatnya akan tercium juga. Demikian pula borok-borok Ibu Kasmi. Tanpa disadari, rupanya rekan-rekan sekantornya menaruh curiga terhadap perangai buruknya, karena melihat barang sumbangan selalu raib dari hari ke hari. Begitu halnya dengan keuangan yang tidak beres. Hanya saja, mereka belum mempunyai keberanian untuk melaporkan pada atasannya. Paling-paling hanya menggerutu dibelakang. Dan ini berlangsung bertahun-tahun lamanya sampai kemudian aroma keburukan Ibu Kasmi diketahui oleh pimpinan.
Namun bukan Kasmi namanya kalau tidak bisa mengelak. Segepok dokumen dan pembukuan keuangan dianggapnya sudah cukup meyakinkan pimpinannya ketimbang mendengar suara-suara sumbang yang memojokkan dirinya. Bagi perempuan ini, buktilah yang berbicara secara jelas. Harus diakui, selain pandai menyembunyikan kesalahannya, ia juga lihai membuat pembukuan. Sayangnya ketika diminta untuk mengecek semua keuangan dan barang yang harus dipertanggung jawabkan, ia tidak bisa berkelit.
"Laporan yang dibuat hanya fiktif belaka. Sebab keuangan yang berada dalam tangannya, jauh lebih kecil dibandingkan dalam pembukuannya. Ia selalu tak bisa menunjukkan yang sesungguhnya.," ucap Pak Nurhadi.
Aib pun terkuak sudah. Maka, sudah barang tentu pembicaraan yang diam-diam selama ini berkembang di lingkungan kantor menjadi kenyataan. Dengan nada memelas, Ibu Kasmi meminta agar tetap diijinkan bekerja dan berjanji akan menunaikan tugasnya sebaik mungkin dengan tidak mengulang kesalahan lagi.
Rekan-rekannya merasa heran, kenapa perempuan itu tetap dipertahankan kalau nyata-nyata telah menggelapkan barang dan uang yayasan. Apakah tidak ada kebijakan yang lebih pantas buat dia agar kebiasaan ini tidak terulang kembali, seperti dipindahkan di bagian lain misalnya?
Sebulan dua bulan, pekerjaan di kantor berjalan debagaimana mestinya. Janji Ibu Kasmi untuk memperbaiki diri di hadapan pimpinannya tampaknya benar-benar akan terbukti. Semua pembukuan rapi dan tak ada lagi penggelapan uang dan barang-barang. Akan tetapi ditengah kepercayaan yang sudah mulai tumbuh dan orang mulai bisa melupakan perbuatan buruk masa lalunya, Ibu Kasmi justru berulah lagi. Apa yang dilakukan beberapa bulan terakhir hanyalah skenario dan akal-akalan belaka. Kini, watak aslinya muncul kembali.
Godaan lembaran ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah terasa menusuk-nusuk pikiranya. Uang panas milik umat itu berpindah ke tangannya dan masuk ke kantong pribadinya. Sekali ada kesempatan untuk melahap, maka hari berikutnya ia akan mengulang kembali. Toh, ia bisa menyimpan rapat-rapat keburukannya.
Pihak keluarga pun sebenarnya mendengar ulah buruknya, tapi lagi-lagi mereka segan untuk mengingatkan. Bertemu dengannya seolah berhadapan dengan batu karang dilautan hingga sulit sekali diluluhkan. Bahkan saking malunya, mereka enggan menyambangi sewaktu sakit.
Suatu hari di bulan oktober 2019, ketika pembantunya sedang membersihkan ruangan rumah sembari mempersiapkan sarapan, Ibu Kasmi merasa kurang enak badan. Tubuhnya panas dingin hingga hari itu ia memutuskan tidak berangkat ke kantor. Ia maklum barangkali karena capek bekerja. Sehari setelahnya, demam itu tak kunjung reda bahkan semakin memburuk. Beberapa hari kemudian, muncul perubahan dalam tubuh Ibu Kasmi. Kulit di wajahnya perlahan berubah menjadi sisik ikan.
Bagi mereka yang mengetahui perangai Ibu Kasmi, ketidakwajaran penyakit yang dideritanya sampai meninggalnya itu merupakan buah yang mesti dituai akibat perbuatannya dulu yang sering menggondol uang dan barang yayasan. Padahal uang dan barang-barang itu seharusnya diberikan kepada para dhu'afa'.
Setidaknya, peristiwa yang terjadi di Jakarta ini mengingatkan umat manusia tentang larangan memakan harta orang, terlebih harta itu untuk anak-anak yatim dan orang-orang dhu'afa'. Karena menyerobot hak mereka, sama juga menyakiti hatinya. Sebaliknya, mereka semestinya diperlakukan dengan baik.

Belum ada Komentar untuk "Tubuh Bersisik Menjelang Ajal"
Posting Komentar