Recent Posts

    Sebuah Renungan "Menunggu"

    Perkara Kadar Air Dalam Taharah

    Semua orang sepakat, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Kursi empuk yang seharusnya nyaman, berubah bagai pemanggang. Lukisan pemandangan di sudut ruang, tak mampu lagi mengobati rasa bosan. Punggung kemudian mendadak pegal karena kepenatan yang tak berkesudahan. Sungguh suatu pengalaman yang sangat tidak mengenakkan. Banyak lagi cerita lain dengan kesimpulan sama, menunggu memang membosankan.

    Proses menunggu terkait dengan masalah janji, seharusnya juga dengan masalah sabar. Janji dan sabar, dua kalimat yang berbeda makna, namun terkait dalam pengertian yang positif. Seseorang yang telah berjanji berarti telah menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat, seperti hendak memberi, monolong, datang atau bertemu. Sedangkan sabar adalah tahan menghadapi cobaan, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa dan tidak lekas patah hati. Tapi kadang, keduanya sangat sulit berjalan berdampingan.

    Memang benar, janji yang menurut pepatah bisa dipersamakan dengan hutang, harganya sangat mahal untuk di khianati. Tak heran kalau banyak orang ditinggalkan relasi dan sahabatnya karena dinilai tidak disiplin dalam menepati janji. Sebab, disiplin merupakan sikap mental bertanggung jawab yang semestinya menyatu dalam diri.

    Pilihan seorang untuk menjauh dan tak lagi percaya karena telah dikhianati, tak bisa disalahkan. Tapi, tak adakah cara lebih baik untuk menyikapi persoalan tersebut?

    Islam mengajarkan kita tentang kesabaran tak terbatas. Sayangnya, sangat sedikit orang yang tetap bersabar dalam kondisi menunggu yang cukup lama. Padahal tanpa disadari, telah tercipta momentum kawah candradimuka bagi manusia untuk melatih kesabaran. Semakin bisa bertahan dengan kesabaran, maka mental dan pikiran akan terasah untuk mengatasi kemarahan.

    Bukan hanya itu, menunggu membuat kita bisa lebih memahami betapa pentingnya menghargai waktu. Tulisan ini di tujukan agar dalam keadaan apapun, kita tetap berpikir positif dan dapat mengalirkan energi kemarahan menjadi kekuatan bertahan dalam diri.

    Belum ada Komentar untuk "Sebuah Renungan "Menunggu""

    Posting Komentar

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel